Selasa, 17 Juni 2014

sindrom nefrotik



BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Sistem perkemihan terdiri dari organ ginjal, ureter, vesika urinaria (kandung kemih) dan uretra membentuk sistem urinarius. Fungsi utama ginjal adalah mengatur cairan serta elektrolit dan komposisi asam- basa cairan tubuh, mengeluarkan produk akhir metabolic dari dalam darahdan mengatur tekanan darah. Urine yang terbentuk sebagai hasil dari proses ini diangkut dari ginjal melalui ureter kedalam kandung kemih tempat urine tersebut disimpan untuk sementara waktu. Pada saat urinasi kandung kemih berkontraksi dan urine akan di ekskresikan dari tubuh lewat uretra ( Smeltzer, 2001 ).
Namun, fungsi masing-masing organ dari sistem perkemihan tersebut tidak luput dari suatu masalah atau abnormal. Sehingga hal ini dapat menimbulkan beberapa penyakit atau gangguan salah satunya berupa sindrom nefrotik.
Menurut penelitian terdapat perbedaan bentuk Sindrom nefrotik di Indonesia (Negara tropis) dan Negara maju. Di Negara maju umumnya sindroma nefrotik jenis kelainan minimal; pada Sindrom nefrotik terletak pada tubulus dan glomerulus tidak mengalami gangguan fungsi. Di Indonesia (RSCM) umumnya jenis Sindrom nefrotik bukan kelainan minimal yang menurut dugaan penelitian disebabkan karena berbagai infeksi yang pernah diderita pasien atau gangguan gizi (malnutrisi) pada waktu lampau, kekurangan gizi menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh sehingga pasien mudah mendapat infeksi yang merupakan salah satu pencetus dari Sindrom nefrotik bukan kelainan minimal tersebut (Cecily L.Betz dan Linda A, Sowden,  2002).
Maka dari kasus yang muncul tersebut, disini peran perawatdibutuhkan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan Sindrom nefrotik, dimana berperan secara mandiri dan kolaboratif dalam melaksanakan asuhan keperawatan, misalnya dengan mendorong dan memberi support pada anggota keluarga untuk ikut serta merawat penderita baik di Rumah Sakit maupun setelah pasien pulang dari Rumah Sakit, dan mendeteksi secara dini tentang keluhan-keluhan penderita, yang tidak lepas dari usaha promotif dan preventif serta usaha kuratif, rehabilitatif yaitu setelah pasien pulang dari Rumah Sakit.
Dari uraian di atas, maka dalam makalah ini penulis akan membahas lebih lanjut mengenai Konsep Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Perkemihan Dengan Sindrom Nefrotik.

1.2  Tujuan

1.2.1        Tujuan Umum
Agar Mahasiswa mengetahui, mengerti, dan mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada gangguan sistem perkemihan dengan sindrom nefrotik.

1.2.2        Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mampu:
·         Memahami dan mengerti konsep penyakit pada pasien dengan sindrom nefrotik baik secara medik maupun keperawatan.
·         Melakukan pengkajian keperawatan pada anak dengan sindrom nefrotik
·         Menegakkan dan merumuskan diagnose keperawata.
·         Menyusun rencana tindakan keperawatan yang telah disusun.
·         Menerapkan rencana tindakan keperawatan yang telah tersusun dalam bentuk pelaksanaan tindakan (implementasi).
·         Melakukan evaluasi tindakan keperawatan



BAB II

KONSEP DASAR


2.1  Pengertian

Sindrom Nefrotik adalah Status klinis yang ditandai dengan peningkatan permeabilitas membran glomerulus terhadap protein, yang mengakibatkan kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. Wong, 2004).
Sindrom nefrotik (SN) merupakan sekumpulan gejala yang terdiri dari proteinuria massif (lebih dari 50 mg/kgBB/24 jam), hipoalbuminemia (kurang dari 2,5 gram/100 ml) yang disertai atau tidak disertai dengan edema dan hiperkolesterolemia. (Rauf, 2002).
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai dengan peningkatan protein dalam urin secara bermakna (proteinuria), penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema, dan serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah (hyperlipidemia). Tanda-tanda tersebut dijumpai di setiap kondisi yang sangat merusak membrane kapiler glomerulus dan menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus (Suddarth, 2001).
Sindroma Nefrotik adalah suatu sindroma (kumpulan gejala-gejala) yang terjadi akibat berbagai penyakit yang menyerang ginjal dan menyebabkan: proteinuria (protein di dalam air kemih), menurunnya kadar albumin dalam darah, penimbunan garam dan, air yang berlebihan, meningkatnya kadar lemak dalam darah. Sindroma ini bisa terjadi pada segala usia. Pada anak-anak, paling sering timbul pada usia 18 bulan sampai 4 tahun (Nelson, 2002).

2.2  Anatomi fisiologi

1.      Anatomi
Ginjal merupakan salah satu bagian saluran kemih yang terletak retroperitoneal dengan panjang lebih kurang 11-12 cm, disamping kiri kanan vertebra. Pada umumnya, ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri oleh karena adanya hepar dan lebih dekat ke garis tengah tubuh. Batas atas ginjal kiri setinggi batas atas vertebra thorakalis XII dan batas bawah ginjal setinggi batas bawah vertebra lumbalis III. Pada fetus dan infan, ginjal berlobulasi. Makin bertambah umur, lobulasi makin kurang sehingga waktu dewasa menghilang. Parenkim ginjal terdiri atas korteks dan medula. Medula terdiri atas piramid-piramid yang berjumlah kira-kira 8-18 buah, rata-rata 12 buah. Tiap-tiap piramid dipisahkan oleh kolumna bertini. Dasar piramid ini ditutup oleh korteks, sedang puncaknya (papilla marginalis) menonjol ke dalam kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu menjadi kaliks mayor yang berjumlah 2 atau 3 ditiap ginjal. Kaliks mayor/minor ini bersatu menjadi pelvis renalis dan di pelvis renalis inilah keluar ureter.
Korteks sendiri terdiri atas glomeruli dan tubili, sedangkan pada medula hanya terdapat tubuli. Glomeruli dari tubuli ini akan membentuk Nefron. Satu unit nefron terdiri dari glomerolus, tubulus proksimal, loop of henle, tubulus distal (kadang - kadang dimasukkan pula duktus koligentes). Tiap ginjal mempunyai lebih kurang 1,5-2 juta nefron berarti pula lebih kurang 1,5-2 juta glomeruli.
Pembentukan urin dimulai dari glomerulus, dimana pada glomerulus ini filtrat dimulai, filtrate adalah isoosmotic dengan plasma pada angka 285 mosmol. Pada akhir tubulus proksimal 80 % filtrat telah di absorbsi meskipun konsentrasinya masih tetap sebesar 285 mosmol. Saat infiltrate bergerak ke bawah melalui bagian desenden lengkung henle, konsentrasi filtrat bergerak ke atas melalui bagian asenden, konsentrasi makin lama makin encer sehingga akhirnya menjadi hipoosmotik pada ujung atas lengkung. Saat filtrat bergerak sepanjang tubulus distal, filtrate menjadi semakin pekat sehingga akhirnya isoosmotic dengan plasma darah pada ujung duktus pengumpul. Ketika filtrat bergerak turun melalui duktus pengumpul sekali lagi konsentrasi filtrat meningkat pada akhir duktus pengumpul, sekitar 99% air sudah direabsorbsi dan hanya sekitar 1% yang diekskresi sebagai urin atau kemih  (Pearce, 2009).
gambar SEQ gambar \* ARABIC 1 . Part of the nephron

gambar 2. Glomerulus Normal
gambar 3. Glomerulunefritis
2.      Fisiologi ginjal
Telah diketahui bahwa ginjal berfungsi sebagai salah satu alat ekskresi yang sangat penting melalui ultrafiltrat yang terbentuk dalam glomerulus. Terbentuknya ultrafiltrat ini sangat dipengaruhi oleh sirkulasi ginjal yang mendapat darah 20% dari seluruh cardiac output.

-    Faal glomerulus
Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang dapat masuk ke tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih besar dibanding tekanan hidrostatik intra kapiler dan tekanan koloid osmotik. Volume ultrafiltrat tiap menit per luas permukaan tubuh disebut glomerula filtration rate (GFR). GFR normal dewasa : 120 cc/menit/1,73 m2 (luas pemukaan tubuh). GFR normal umur 2-12 tahun : 30-90 cc/menit/luas permukaan tubuh anak.

-    Faal Tubulus
Fungsi utama dari tubulus adalah melakukan reabsorbsi dan sekresi dari zat-zat yang ada dalam ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Sebagaimana diketahui, GFR : 120 ml/menit/1,73 m2, sedangkan yang direabsorbsi hanya 100 ml menit, sehingga yang diekskresi hanya 1 ml/menit dalam bentuk urin atau dalam sehari 1440 ml (urin dewasa).

Pada anak-anak jumlah urin dalam 24 jam lebih kurang dan sesuai dengan umur :
a) 1-2 hari                             : 30-60 ml
b) 3-10 hari               : 100-300 ml
c) 10 hari-2 bulan     : 250-450 ml
d) 2 bulan-1 tahun    : 400-500 ml
e) 1-3 tahun              : 500-600 ml
f) 3-5 tahun              : 600-700 ml
g) 5-8 tahun              : 650-800 ml
h) 8-14 tahun                        : 800-1400 ml

-    Faal Tubulus Proksimal
Tubulus proksimal merupakan bagian nefron yang paling banyak melakukan reabsorbsi yaitu ± 60-80 % dari ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Zat-zat yang direabsorbsi adalah protein, asam amino dan glukosa yang direabsorbsi sempurna. Begitu pula dengan elektrolit (Na, K, Cl, Bikarbonat), endogenus organic ion (citrat, malat, asam karbonat), H2O dan urea. Zat-zat yang diekskresi asam dan basa organik.

-    Faal loop of henle
Loop of henle yang terdiri atas decending thick limb, thin limb dan ascending thick limb itu berfungsi untuk membuat cairan intratubuler lebih hipotonik.

-    Faal tubulus distalis dan duktus koligentes
Mengatur keseimbangan asam basa dan keseimbangan elektrolit dengan cara reabsorbsi Na dan H2O dan ekskresi Na, K, Amonium dan ion hydrogen.
(Pearce, 2009)

2.3  Etiologi

Penyebab umum penyakit tidak diketahui; akhir- akhir ini sering dianggap sebagi suatu bentuk penyakit autoimun. Jadi merupakan reaksi antigen-antibodi. Umumnya dibagi menjadi 4 kelompok :
a)      Sindroma nefrotik bawaan
Diturunkan sebagai resesif autosom atau karena reaksi fetomaternal
b)      Sindroma nefrotik sekunder
Disebabkan oleh parasit malaria, penyakit kolagen, glomerulonefritis akut, glomerulonefrits kronik, trombosis vena renalis, bahan kimia (trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, raksa), amiloidosis, dan lain-lain.
c)      Sindroma nefrotik idiopati (tidak diketahui penyebabnya)
d)     Glumerulosklerosis fokal segmental
 (Mansjoer, 2001)


2.4  Patofisiologi

Kelainan patogenetik yang mendasari nefrosis adalah proteinuria, akibat dari kenaikan permeabilitas dinding kapiler glomerulus. Mekanisme dari kenaikan permeabilitas ini belum diketahui tetapi mungkin terkait, setidak-tidaknya sebagian, dengan hilanghnyamuatan negative glikoprotein dalam dinding kapiler. Pada status nefrotis, protein yang hilang biasanya melebihi 2g/24 jamdan terutama terdiri dari albumin; hipoproteinemianya pada dasarnya adalah “hipoalbuminemia”. Umumnya, edema muncul bila kadar albumin serum turun di bawah 2,5g/dL (25 g/dL).

Mekanisme pembentukan edema pada nefrosis tidak dimengerti sepenuhnya. Kemungkinan adanya bahwa edema didahului oleh timbulnya hipoalbuminemia, akibat kehilangan protein urin. Hipoalbuminemia menyebabkan penurunan tekanan onkotik plasma, yang memungkinkan transudasi cairan dari ruang intravaskuler ke ruang interstisial. Penurunan volume intravaskuler menurunkan tekana perfusi ginjal; mengakasorbsi natrium di tubulus distal. Penurunan volme intravaskuler juga merangsang pelepasan hormone antidiuretik, yang mempertinggi reabsorbsi air dalam duktus kolektivus. Karena tekanan onkotik plasma berkurang, natrium dan air yang telah direabsorbsi masuk ke ruang instertisial, memperberat edema. Adanya faktor-faktor yang juga memainkan peran pada pembentukan edema dapat ditunjukan melalui observasi bahwa beberapa penderita sindrom neefrotik mempunyai volume intravaskuler yang normal atau meningkatkan, dan kadar renin serta aldosterone plasma normal atau menurun. Penjelasan secara hipotesis meliputi defek internal dalam ekskresi natrium dan air atau adanya agen dalam sirkulasi yang menaikan permeabilitas dinding kapiler diseluruh tubuh, serta dalam ginjal.
Pada status nefrosis, hampir semua kadar lemak (kolestrol, trigliserid) dan lipoprotein serum meningkat. Sekurang-kurangnya ada dua factor yang membarikan sebagian penjelasan: (1) hipoproteinemia merangsang sintesis protein menyeluruh dalam hati, termasuk lipoprotein; dan (2) katabolisme lemak menurun, karena penurunan kadar lipoprotein lipase plasma, sistem enzim utama yang mengambil lemak dari plasma. Apakah lipoprotein lipase keluar melalui urin belum jelas (Suddarth, 2001).

2.5  Pathways

























2.6  Manifestasi klinik

Gejala awalnya bisa berupa: Manifestasi utama sindrom nefrotik adalah edema. pembengkakan jaringan akibat penimbunan garam dan air Edema biasanya bervariasi dari bentuk ringan sampai berat (anasarka). Edema biasanya lunak dan cekung bila ditekan (pitting), dan umumnya ditemukan disekitar mata (periorbital) dan berlanjut ke abdomen daerah genitalia dan ekstermitas bawah.  
Penurunan jumlah urin, urine gelap, berbusa, Pucat, Hematuri, Anoreksia dan diare disebabkan karena edema mukosa usus. Sakit kepala, malaise, nyeri abdomen, berat badan meningkat dan keletihan umumnya terjadi. Gagal tumbuh dan pelisutan otot (jangka panjang),
Gejala lainnya adalah pembengkakan lutut dan kantung zakar (pada pria). Pembengkakan yang terjadi seringkali berpindah-pindah; pada pagi hari cairan tertimbun di kelopak mata dan setalah berjalan cairan akan tertimbun di pergelangan kaki. Pengkisutan otot bisa tertutupi oleh pembengkakan. Pada anak-anak bisa terjadi penurunan tekanan darah pada saat penderita berdiri dan tekanan darah yang rendah (yang bisa menyebabkan syok). Tekanan darah pada penderita dewasa bisa rendah, normal ataupun tinggi. Produksi air kemih bisa berkurang dan bisa terjadi gagal ginjal karena rendahnya volume darah dan berkurangnya aliran darah ke ginjal. Kadang gagal ginjal disertai penurunan pembentukan air kemih terjadi secara tiba-tiba. Kekurangan gizi bisa terjadi akibat hilangnya zat- zat gizi (misalnya glukosa) ke dalam air kemih.
Pertumbuhan anak-anak bisa terhambat. Kalsium akan diserap dari tulang. Rambut dan kuku menjadi rapuh dan bisa terjadi kerontokan rambut. Pada kuku jari tangan akan terbentuk garis horisontal putih yang penyebabnya tidak diketahui. Lapisan perut bisa mengalami peradangan (peritonitis). Sering terjadi infeksi oportunistik (infeksi akibat bakteri yang dalam keadaan normal tidak berbahaya).
Tingginya angka kejadian infeksi diduga terjadi akibat hilangnya antibodi ke dalam air kemih atau karena berkurangnya pembentukan antibodi. Terjadi kelainan pembekuan darah, yang akan meningkatkan resiko terbentuknya bekuan di dalam pembuluh darah (trombosis), terutama di dalam vena ginjal yang utama. Di lain fihak, darah bisa tidak membeku dan menyebabkan perdarahan hebat. Tekanan darah tinggi disertai komplikasi pada jantung dan otak paling mungkin terjadi pada penderita yang memiliki diabetes dan penyakit jaringan ikat.
 (Suddarth, 2001)

2.7  Pemeriksaan diagnostic

v  Uji urine
1)      Protein urin – meningkat. Nilai normal < 200 mg/24 jam
2)      Urinalisis – cast hialin dan granular, hematuria
3)      Dipstick urin – positif untuk protein dan darah
4)      Berat jenis urin – meningkat. Nilai normal: 1.003-1.035 ml

v  Uji darah
1)      Albumin serum – menurun. Nilai normal : 3,4-5,4 g/dl.
2)      Kolesterol serum – meningkat. Nilai normal : < 300 mg/dl 
3)      Hemoglobin dan hematokrit meningkat. Nilai Hb normal pada anak : 10-16 gr/dL; Hematokrit Normal pada anak : 33-38%
4)      Laju endap darah (LED) – meningkat. Nilai normal anak <10 mm/jam pertama
5)      Elektrolit serum – bervariasi dengan keadaan penyakit perorangan.

v  Uji diagnostic
Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara rutin (Betz, Cecily L, 2002 : 335).
v  Evaluasi Diagnostik
Urinalisis menunjukkan haemturia mikroskopik, sedimen urine, dan abnormalitas lain. Jarum biopsi ginjal mungkin dilakukan untuk pemriksaan histology terhadap jaringan renal untuk memperkuat diagnosis. Terdapat proteinuri terutama albumin (85 – 95%) sebanyak 10 –15 gr/hari. Ini dapat ditemukan dengan pemeriksaan Essbach. Selama edema banyak, diuresis berkurang, berat jenis urine meninggi. Sedimen dapat normal atau berupa toraks hialin, dan granula lipoid, terdapat pula sel darah putih. Dalam urine ditemukan double refractile bodies. Pada fase nonnefritis tes fungsi ginjal seperti : glomerular fitration rate, renal plasma flowtetap normal atau meninggi . Sedangkan maximal konsentrating ability dan acidification kencing normal. Kemudian timbul perubahan pada fungsi ginjal pada fase nefrotik akibat perubahan yang progresif pada glomerulus. Kimia darah menunjukkan hipoalbuminemia, kadar globulin normal atau meninggi sehingga terdapat rasio Albumin-globulin yang terbalik, hiperkolesterolemia, fibrinogen meninggi. Sedangkan kadar ureum normal. Anak dapat menderita defisiensi Fe karena banyak transferrin ke luar melalui urine. Laju endap darah tinggi, kadar kalsium darah sering rendah dalam keadaan lanjut kadang-kadang glukosuria tanpa hiperglikemia.

2.8  Penatalaksanaan Medik

v  Terapi nonfarmakologis
1)      Diet untuk pasien SN adalah 35 kal/kgBB/ hari, sebagian besar terdiri dari karbohidrat. Dianjurkan diet protein normal 0,8-1 g/kgBB/hari. Giordano dkk memberikan diet protein 0,6 g/ kgBB/hari ditambah dengan jumlah gram protein sesuai jumlah proteinuri. Hasilnya proteinuria berkurang, kadar albumin darah meningkat dan kadar fibrinogen menurun.
2)      Istirahat sampai oedema tinggal sedikit
v  Terapi farmakologis
Penatalaksanaan Sindrom Nefrotik meliputi terapi spesifik untuk kelainan dasar ginjal atau penyakit penyebab (pada Sindrom Nefrotik sekunder), mengurangi atau menghilangkan proteinuria, memperbaiki hipoalbuminemi serta mencegah dan mengatasi penyulit. Nefropati lesi minimal dan nefropati membranosa adalah dua kelainan yang memberikan respon terapi yang baik terhadap steroid. Peneliti lain menemukan bahwa pada glomerulonephritis fokal segmental sampai 40% pasien memberi respon yang baik terhadap steroid dengan remisi lengkap. (Schieppati dan kawak) menemukan bahwa pada kebanyakan pasien nefropati membranosa idiopatik, dengan terapi simptomatik fungsi ginjalnya lebih baik untuk jangka waktu lama dan dapat sembuh spontan. Oleh karena itu mereka tidak mendukung pemakaian glukokortikoid dan imunosupresan pada nefropati jenis ini. Regimen penggunaan kortikosteroid pada Sindrom Nefrotik bermacam-macam, di antaranya prednison 125 mg setiap 2 hari sekali selama 2 bulan kemudian dosis dikurangi bertahap dan dihentikan setelah 1-2 bulan jika relaps, terapi dapat diulangi. Regimen lain pada orang dewasa adalah prednison/prednisolon 1-1,5 mg/kg berat badan/hari selama 4 minggu diikuti 1 mg/kg berat badan selang 1 hari selama 4 minggu. Sampai 90% pasien akan remisi bila terapi diteruskan sampai 20-24 minggu, namun 50% pasien akan mengalami kekambuhan setelah kortikosteroid dihentikan. Hopper menggunakan dosis 100 mg/48 jam. Jika tidak ada kemajuan dalam 2-4 minggu, dosis dinaikkan sampai 200 mg per 48 jam dan dipertahankan sampai proteinuri turun hingga 2 gram atau kurang per 24 jam, atau sampai dianggap terapi ini tidak ada manfaatnya. Pada anak-anak diberikan prednisone 60 mg/m luas permukaan tubuh atau 2 mg/kg berat badan/hari selama 4 minggu, diikuti 40 mg/m luas permukaan tubuh setiap 2 hari selama 4 minggu.

Perlu diperhatikan efek samping pemakaian kortikosteroid jangka lama di antaranya nekrosis aseptik, katarak, osteoporosis, hipertensi, diabetes melitus. Pada pasien yang tidak responsive terhadap kortikosteroid, untuk mengurangi proteinuri digunakan terapi simptomatik dengan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI), misal kaptopril atau enalapril dosis rendah, dan dosis ditingkatkan setelah 2 minggu atau obat antiinflamasi non-steroid (OAINS), misal indometasin 3×50mg. Angiotensin converting enzyme inhibitor mengurangi ultrafiltrasi protein glomerulus dengan menurunkan tekanan intrakapiler glomerulus dan memperbaiki size selective barrier glomerulus.

2.9  Komplikasi

1)      Infeksi sekunder mungkin karena kadar imunoglobulin yang rendah akibat hipoalbuminemia.
2)      Shock : terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (< 1 gram/100ml) yang menyebabkan hipovolemia berat sehingga menyebabkan shock.
3)      Trombosis vaskuler : mungkin akibat gangguan sistem koagulasi sehingga terjadi peninggian fibrinogen plasma.
4)      Komplikasi yang bisa timbul adalah malnutrisi atau kegagalan ginjal.
5)      Albuminemia.
Salah satu penyebab keadaan ini adalah mutasi yang mempengaruhi penyambungan. Penderita albuminemia ini hanya mempelihatkan gejala edema yang sedang dalam keadaan ini juga diperkirakan jumlah protein plasma yang lain akan meningkat untuk mengkompensasi kekurangan albumin.
6)      Albumin karena dibuat oleh hati, maka penurunan albumin serum dapat menyebabkan dari penyakit hati kronik, ginjal, saluran cerna kronik,dan infeksi tertentu.

2.10          Asuhan keperawatan

1.      Pengkajian.
Pengkajian yang perlu dilakukan pada klien anak dengan sindrom nefrotik (Donna L. Wong,200 : 550) sebagai berikut :
a.       Identitas.
Umumnya 90 % dijumpai pada kasus anak. Enam (6) kasus pertahun setiap 100.000 anak terjadi pada  usia kurang dari 14 tahun. Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 2 : 1. Pada daerah endemik malaria banyak mengalami komplikasi nefrotic syndrome.
b.      Riwayat Kesehatan.
-          Keluhan utama. 
Badan bengkak, muka sembab dan napsu makan menurun
c.       Riwayat penyakit dahulu.
Edema masa neonatus, malaria, riwayat Glomerulonefritis Akut dan Glomerulonefritis Kronik, terpapar bahan kimia.
d.      Riwayat penyakit sekarang.
Badan bengkak, muka sembab, muntah, napsu makan menurun, konstipasi, diare, urine menurun.
e.       Riwayat kesehatan keluarga.
Karena kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat ditangani dengan terapi biasa dan bayi biasanya mati pada tahun pertama atau dua tahun setelah kelahiran.

a.       Lakukan pengkajian fisik
Khususnya kaji adanya oedema
Macam-macam oedema: Oedema ada yang setempat dan ada juga yang menyeluruh atau umum disebut oedema anasarka.
Jenis oedema:
-          Pitting oedema, mengacu pada perpindahan cairan interstitium yaitu tekanan jari pada kulit yang meninggalkan cekungan. Setelah tekanan dilepas memerlukan waktu 5-30” untuk kembali pada keadaan semula.
-          Non pitting oedema, kadang-kadang cairan interstitiel yang sudah oedema berat tidak dapat dipindahkan ke daerah lain dengan jalan penekanan.
-          Perdarahan (Hemorhagi)
Hemorhagi dapat terjadi pada kapiler, vena, arteri, atau jantung. Hemorhagi dapat terjadi karena darah keluar dari susunan kardiovaskuler atau karena diapedesis (artinya eritrosit keluar dari pembuluh darah yang tampak utuh)
gambar 4. Oedema pitting
gambar 5. Oedema periorbital
b.      Dapatkan riwayat kesehatan dengan
Amati terutama yang berhubungan dengan penambahan berat badan saat ini, disfungsi ginjal.
c.       Observasi adanya manifestasi sindrom
nefrotik : Penambahan berat badan, Edema; Wajah sembab : Khususnya di sekitar mata, Timbul pada saat bangun pagi, Berkurang di siang hari, Pembengkakan abdomen (asites), Kesulitan pernafasan (efusi pleura), Pembengkakan labial (scrotal); Edema mukosa usus yang menyebabkan : Diare, Anoreksia,  Absorbsi usus buruk, Pucat kulit ekstrim (sering); Peka rangsang; Mudah lelah; Letargi;  Tekanan darah normal atau sedikit menurun; Kerentanan terhadap infeksi; Perubahan urin : Penurunan volume, Gelap, Berbau buah, Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian, misalnya analisa urine akan adanyaprotein, silinder dan sel darah merah; analisa darah untuk protein serum (total, perbandingan albumin/globulin, kolesterol), jumlah darah merah, natrium serum.

2.11       Diagnosa Keperawatan

a)      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus dan akumulasi cairan dalam jaringan dan ruang ketiga (Interstitial).
b)      Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik , hipoksia jaringan.
c)      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia jaringan.
d)     Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan pada diafragma.
e)      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan nafsu makan.

f)       Resiko infeksi berhubungan dengan sistem pertahanan primer tidak adekuat.
g)      Gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan.

 (Wilkinson, 2011)

2.12          Intervensi Keperawatan

a)      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus dan akumulasi cairan dalam jaringan dan ruang ketiga (Interstitial).
-          Tujuan             : volume cairan tubuh akan seimbang, Pasien tidak menunjukkan bukti-bukti akumulasi cairan (pasien mendapatkan volume cairan yang tepat).
-          kriteria hasil     : penurunan edema, ascites, kadar protein darah meningkat, output urine adekuat 600 – 700 ml/hari, tekanan darah dan nadi dalam batas normal.
tabel 1. Intervensi
(Mansjoer, 2001) (msnsjoer, 2001) (msnsjoer, 2001)
Intervensi
Rasional
1.      Catat intake dan output secara akurat

2.      Kaji dan catat tekanan darah, pembesaran abdomen, BJ urine
3.      Timbang berat badan tiap hari dalam skala yang sama
4.      Berikan cairan secara hati-hati dan diet rendah garam.
5.      Diet protein 1-2 gr/kg BB/hari.
Evaluasi harian keberhasilan terapi dan dasar penentuan tindakan
Tekanan darah dan BJ urine dapat menjadi indikator regimen terapi
Estimasi penurunan edema tubuh

Mencegah edema bertambah berat

Pembatasan protein bertujuan untuk meringankan beban kerja  hepar dan mencegah bertamabah rusaknya hemdinamik ginjal.

b)      Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik , hipoksia jaringan.
-          Tujuan  : Kulit tidak menunjukkan adanya kerusakan integritas : kemerahan atau iritasi.
-          Kriteria hasil:
2.      Integritas kulit baik
3.      Memperlihatkan prilaku/teknik untuk.
4.      Mencegah kerusakan kulit.
tabel 2.Intervensi

Intervensi
Rasional
1.      Berikan perawatan kulit
2.      Hindari pakaian ketat
3.      Bersihkan dan bedaki permukaan kulit beberapa kali sehari
4.      Ubah posisi dengan sering ; pertahankan kesejajaran tubuh dengan baik.
5.      Gunakan penghilang tekanan atau matras atau tempat tidur penurun tekanan sesuai kebutuhan.
1.      Memberikan kenyamanan dan mencegah kerusakan kulit
2.      Dapat mengakibatkan area yang menonjol tertekan
3.      Untuk mencegah terjadinya iritasi pada kulit karena gesekan dengan alat tenun
4.      Karena anak dengan edema massif selalu letargis, mudah lelah dan diam saja.
5.      Untuk mencegah terjadinya ulkus

c)      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia jaringan
Tujuan : pernafasan normal, terjadi peningkatan perfusi jaringan yang baik.
Kriteria Hasil :
-          Turgor kulit baik
-          Tidak ada tanda sianosis
-          Tanda-tanda vital dalam batas normal
tabel 3.Intervensi

Intervensi
Rasional 
1.      Monitor tanda-tanda vital, CVP, edema, tingkat kesadaran.
2.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemeriksaan AGD, elektrolit, darah lengkap.
3.      Berikan O2 sesuai kebutuhan.
4.      Lakukan perawatan kulit , seperti pemberian losion.
5.      Pantau intake dan output cairan.


1.      Data dasar untuk mengetahui perkembangan pasien.
2.      Pasien dengan gangguan perfusi jaringan dapat dibuktikan dengan pemeriksaan analiasa gas darah.
3.      Meningkatkan perfusi jaringan.
4.      Mengindari gangguan integritas kulit.
5.      Mengatur kebutuhan cairan dan mencegah komplikasi akibat perubahan kadar cairan dan elektrolit.


d)     Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan pada diafragma
Tujuan : menunjukan pola pernafasan yang efektif
Kriteria hasil:
-          Status pernafasan baik
-          Tidak ada tanda sianosis
-          Kepatenan jalan napas
-          Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan
-          Tidak ada suara napas tambahan (wheezing)
-          Tanda-tanda vital dalam batas normal
tabel 4.Intervensi

Intervensi
Rasional
1.      Pantu kedalaman, irama. Kecepatan dan upaya pernapasan.
2.      Pantau adanya puacat dan sianosis.
3.      Auskultasi suara nafas, perhatikan area penurunan/tidak adanya ventilasi dan adanya suara napas tambahan.
4.      Ajarkan Kepada pasien dan keluarga untuk melakukan teknik relakssi Rasional : untuk memperbaiki pola napas

1.      Mengumpulkan dan menganalisa data pasien untuk memastikan kepatenan jalan napas dan pertukaran gas yang adekuat.
2.      Untuk mengetahui ada tidaknya gangguan pada pertukaran gas.
3.      Suara napas wheezing menandakan adanya gangguan pada kepatenan jalan napas
4.      Untuk memperbaiki pola napas

      
e)      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan nafsu makan
Tujuan: mempertahankan asupan nitrisi yang adekuat, Terjadi peningkatan berat badan sesuai batasan waktu, Terjadi peningkatan status nutrisi.
Kriteria hasil :
1.      Nafsu makan klien baik
2.      Konjungtiva tidak anemis
3.      Tidak terjadi mual muntah
4.      Nilai laboratorium Hb normal 11-15 g/dl
5.      Tidak terjadi penurunan berat badan terus menerus
tabel 5. Intervensi

Intervensi
Rasional
1.      Monitor perubahan factor yang menyebabkan terjadinya kekurangan kebutuhan nutrisi atau kelebihannya dan status kebutuhan nutrisi.
2.      Kurangi factor yang mempengaruhi perubahan nutrisi.
3.      Ajarkan untuk merencanakan makanan.
4.      Kaji tanda vital dan bising usus.
5.      Monitor glukosa, elektrolit, albumin, dan hemoglobin.
6.      Berikan pendidikan tentang cara diet, kebutuhan kalori, atau tindakan lainnya.



f)       Resiko infeksi berhubungan dengan sistem pertahanan primer tidak adekuat
Tujuan : pasien menunjukan tidak adanya tanda-tanda infeksi
Kriteria hasil :
1.      Terbebas dari tanda dan gejala infeksi
2.      Memperlihatkan higiene yang adekuat
3.      Menggambarkan faktor yang menunjang terjadinya infeksi
4.      Mengindikasikan status gastrointestinal,pernapasan, genitourinaria, dan imun dalam batas normal.
5.      Melaporkan tanda dan gejala infeksi serta mengikuti prosedur skrining dan pemantauan.
tabel 6. Intervensi

            Intervensi
Rasional
1.      Pantau tanda dan gejala infeksi.
2.      Anjurkan pasien untuk melakukan pergantian  posisi tirah baring setiap 30 menit.
3.      Kaji faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi( misalnya : usia lanjut, usia kuraang dari 1 tahun, luluh imun, dan malnutrisi).
4.      Ajakan pasien untuk  melakukan personal higiene yang benar.
5.      Kolaborasika dengan tim medis dalam pemberian obat antibiotik
   

1.      mendeteksi risiko atau masalah kesehatan dengan memmanfaatkan riwayat keshatan, pemeriksaan kesehatan, dan prosedur lainnya.
2.      pengaturan posisi untuk menghindari penekanan kulit dan memperlancar sirkulasi perifer.
3.      usia sangat mempengaruhi sistem imun yang ada dalam tubuh sebagai sistem pertahanan.
4.      higiene yang baik akan mengurangi resiko terjadinya infeksi.
5.      mengobati dan  mencegah terjadinya komplikasi   


g)      Gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan.
Tujuan :
Kreteria hasil :
Ø  Anak akan mencapai normal petumbuhanya
Ø  Anak akann mencapai tahapan penting perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial
Ø  Kematangan fisik akan berkembang secara normal
Ø  Pasien akan mencapai tingkat kesejahtraan, kemandirian, pertumbuhan, dan perkembangan yang tinggi.
tabel 7. Intervensi

Intervensi
Rasional
1.      Kaji pengetahuan pengasuh, sumber sumber, sistem pendukung, ketrampilan, koping, dan tingkat komitmen untuk membuat rencana perawatan.
2.      Kaji keadekuatan asupan nutrisi.
3.      Bantu pasien dalam mencapai tingkat pertumbuhan dan perkemangan.
4.      Tentukan makanan yang di sukai.
5.      Berikan aktifitas yang meningkatkan interaksi di antara anak-anak.

1.      Mengatur struktur lingkunan dan memberikan perawatan dalam berespons terhadap penanda perilaku dan status kesehatan.
2.      membantu dan menyediakan asupan diet makanan dan minuman yang seimbang
3.      memfasilitasi atau mengajarkan orang tua /pengasuh untuk memfasilitasi perumbuhan dan perkembangan motoric kasar, motoric halus, bahasa, kognitif, social, dan emosi yang optimal pada anak usia prasekolah dan usia sekolah.
4.      untuk meningkatkan mafsu makan dan mendukung proses metabolism pasien.
5.      menajarkan orang tua dan pengasuh untuk memberikan aktivitas sensorik yang sesuai tahap perkembangan.


 (Wilkinson, 2011)

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Sistem perkemihan merupakan organ vital dalam melakukan ekskresi dan melakukan eliminasi sisa-sisa hasil metabolisme tubuh. Sistem perkemihan terdiri atas: ginjal, ureter, vesika urinaria, uretra. Keempat organ tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam proses ekskresi dan eliminasi sisa-sisa hasil metabolisme tubuh.
Tetapi tidak terlepas dalam menjalankan fungsinya secara normal, sistem perkemihan juga dapat terjadi suatu gangguan salah satunya berupa sindrom nefrotik. Sindrom nefrotik adalah suatu kumpulan gejala gangguan klinis, meliputi proteinuria masif > 3,5 gr/hr, hipoalbuminemia, edema, hiperlipidemia. Manifestasi dari keempat kondisi tersebut yang sangat merusak membran kapiler glomerulus dan menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus.

3.2  Saran

3.1.1        Bagi Mahasiswa
Untuk mempelajari dengan baik dan benar mengenai konsep baik secara medik maupun secara keperawatan yang berkenaan masalah sistem perkemihan yaitu sindrom nefrotik.

3.1.2        Bagi Perawat
Perawat bertanggung jawab dalam merancang dan melaksanakan asuhan keperawatan dengan baik serta tepat. Untuk mencapai hal tersebut dapat dilakukan dengan memahami keadaan pasien dan struktur proses keperawatan serta referensi yang tidak hanya mengacu pada satu literature.


3.1.3        Bagi Masyarakat
Membaca merupakan kunci dari sumber ilmu pengetahuan, jadi membaca literatur lain sangat diperlukan guna penyempurnaan pengetahuan



















DAFTAR PUSTAKA


Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius.
Pearce, E. C. (2009). Anatomy and Physiology for Nurses. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suddarth, B. &. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta: EGC.
Wilkinson, J. M. (2011). Buku Saku Diagnosis keperawatan Edisi 9. Jakarta: EGC.