KEPERAWATAN BEDAH CENTRAL
ASUHAN
KEPERAWATAN
DENGAN
KOLOSTOMI EXCAUSA CARSINOMA COLON
DI RUANG
BEDAH
AKADEMI KEPERAWATAN WIDYA HUSADA
SEMARANG
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas Keperawatan
Bedah Central (KBC) yang berjudul : Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Kolostomi Di Ruang Bedah. Dalam
penyusunan makalah ini penulis banyak
mengalami kesulitan dan hambatan, akan tetapi berkat bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Dalam
kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu, memberi pengarahan, bimbingan, semangat serta
doa untuk keberhasilan penulis, antara lain :
1.
Ibu Dyah Restuning P, S.Kep, selaku dosen pengampu mata kuliah Keperawatan Bedah Cenral (KBC), yang
telah membimbing dan memberi masukan kepada penulis.
2.
Berbagai
pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu
terselesaikannya makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca.
Semarang, Desember 2013
Penulis
Daftar
isi
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kolostomi adalah
suatu operasi untuk membentuk suatu hubungan buatan antara colon dengan
permukaan kulit pada dinding perut. Hubungan ini dapat bersifat sementara atau
menetap selamanya. (llmu Bedah, Thiodorer Schrock, MD, 1983).
Colostomi
dapat berupa secostomy, colostomy transversum, colostomy sigmoid, sedangkan
colon accendens dan descendens sangat jarang dipergunakan untuk membuat
colostomy karena kedua bagian tersebut terfixir retroperitoneal.
Colostomy
pada bayi dan anak hampir selalu merupakan tindakan gawat darurat, sedang pada
orang dewasa merupakan keadaan yang pathologis. Colostomy pada bayi dan anak
biasanya bersifat sementara.
·
Indikasi
kolostomi
·
Indikasi
kolostomi yang permanen pada penyakit usus yang ganas seperti carsinoma pada
usus, Kondisi infeksi tertentu pada colon.
·
Komplikasi
kolostomi
Prolaps merupakan penonjolan mukosa
colon 6 cm atau lebih dari permukaan kulit. Prolaps dapat dibagi 3
tingkatan:Penonjolan seluruh dinding colon termasuk peritonium kadang-kadang
sampai loop ilium. Adanya strangulasi dan nekrosis pada usus yang mengalami
penonjolan prolaps dapat terjadi oleh adanya faktor-faktor Peristaltik usus
meningkat, fixasi usus tidak sempurna, mesocolon yang panjang, tekanan intra
abdominal tinggi, dinding abdomen tipis dan tonusnya yang lemah serta
kemungkinan omentum yang pendek dan tipis.
B.
Tujuan
-
Tujuan Umum
Memahami dan mengetahui asuhan
keperawatan pada klien dengan kolostomi di kamar bedah.
-
Tujuan Khusus
1. Menjelaskan pengertian kolostomi
2. Menjelaskan indikasi kolostomi
3. Menjelaskan tentang pathways
kolostomi
4. Menjelaskan prosedur kolostomi
5. Menjelaskan asuhan keperawatan pra
intra dan post operasi kolostomi
BAB
II
KONSEP
TEORI
A.
Pengertian
Kolostomi
merupakan kolokutaneostomi yang disebut juga anus preternaturalis yang dibuat
untuk sementara atau menetap. Kolostomi sementara dibuat pada pasien dengan
kondisi gawat abdomen dengan peritonitis yang telah dilakukan reseksi sebagian
kolonnya. Kolostomi tetap dibuat dengan tujuan bedah kuratif atau ablative pada
karsinoma kolon dengan reseksi rektoanal abdominoperineal. (Arif Muttaqin &
Kumala Sari. 2009).
Kolostomi
merupakan prosedur yang harus dilakukan pada klien dengan kanker kolon atau
rectum yang telah dbuatkan cara dan lokasi evakuasi kotoran melalui operasi
saluran cerna. (Elly Nurachmah & Sudarsono. 2000).
Kolostomi
merupakan tindakan membuat lubang diantara kolon dan dinding abdomen dimana isi
fekal melewatinya. Kolostomi dapat ditempatkan dikolon asenden, transversal,
desenden atau sigmoid. (Monika Ester. 2001).
Kolostomi
merupakan pembukaan suatu bagian kolon kepermukaan abdomen untuk mengalihkan
feses, baik secara sementara atau permanen. (Lynda Juall Carpenito. 1999).
B.
Indikasi
Indikasi untuk
kolostomi termasuk Diverkulitis, Karsinoma kolon sigmoid, Anomali congenital,
Perlindungan anastomosis jahitan distal (sementara). Single barreled atau end
colostomy termasuk satu pembukaan fungsi (stoma) pada permukaan abdomen dan
permanen jika bagian distal usus dari stoma diangkat. Double barreled dan loop
colostomy termasuk dua pembukaan pada permukaan abdomen, berakhir pada loop
proksimal dan distal. Loop kolostomi dapat sementara, dengan penutupan
kemudian; identifikasi loop proksimal dan distal diperlukan untuk manajemen
yang tepat (Smith, 1986 dan Carpenito,1999)
Indikasi
kolostomi adalah dekompres usus pada obtruksi, stoma sementara untuk bedah
reseksi usus pada radang, atau perforasi, dan sebagai anus stelah reseksi usus
distal untuk melindungi anastomisis distal (Syamsuhidayat, 1998)
C. Pathways
Konsumsi
makanan rendah serat, tinggi lemak dan protein
|
Merokok
|
Obesitas
|
Faktor Genetik
|
Kolitis ulseratif, penyakit
chorn
|
Invasi
jaringan dan efek kompresi oleh tumor
|
Perusakan metaplasia pada
dinding kolon
|
Kanker
kolon
|
Kompresi saraf lokal
|
Kerusakan jaringan
|
Intervensi
radiasi dan keemotrapi
|
Intervensi bedah kolostomi
|
Respon Psikologik
|
Distensi abdomen
|
Intoleran aktivitas
|
Nyeri abdomen
|
Kolostomi
|
Perdarahan
intestinal, feses campur darah
|
Kecemasan
|
kurangnya informasi
|
Intra Operasi
|
Pra Operasi
|
Post Operasi
|
Faktor
Psikologi
|
Pra Operasi
|
Sebelum
dilakukan operasi
|
Jepitan
saraf spinal
|
Nyeri
|
Kurang
informasi terhadap tindakan operasi
|
Peningkatan
reaksi emosional
|
Ansietas
|
Kurang
pengetahuan
|
Intra
Operasi
|
Luka terbuka
|
Luka
pembedahan
|
Resiko infeksi
|
Kerusakan integritas kulit
|
Kuman masuk
|
Perdarahan
|
Netral caunter inadekuat
|
Insisi diperut
|
Resiko combustio
|
Anastesi umum
|
Elektro Caunter
|
Kekurangan volume cairan
tubuh
|
Syok hipovolemik
|
Penurunan kerjaSaraf Spinal
|
Gerak Motorik menurun
|
Gangguan mobilitas fisik
|
Penurunan
Kerja Saraf Pusat (Medula Oblongata)
|
Penurunan
kerja saraf pernapasan
|
Penurunan sistem pencernaan
|
Penurunan
bising usus
|
Konstipasi
|
Ketidakefektifan bersih jalan napas
|
Reflek
batuk menurun
|
Kerja
jantung menurun
|
Kekuatan
pompa jantung menurun
|
Irama
menurun
|
Nadi
menurun
|
Tekanan
darah menurun
|
Penurunan
curah jantung
|
Sistem
kerja saraf pusat (Medula Oblongata) lemah
|
Post Operasi
|
Hipotermia
|
Pemajanan lingkungan
|
Efek
general anastesi
|
Resiko
cidera jatuh
|
Kesadaran
menurun
|
Depresi
reflek
|
Reflek batuk dan menelan
menurun
|
Resiko
aspirasi
|
D.
Prosedur
Tindakan Bedah
Kolostomi dibuat untuk mengobati penyakit
keganasan atau jinak pada kolon atau rectum. Kolostomi dapat bersifat sementara
untuk mengalihkan isi usus atau untuk mengempiskan kolon. Kolostomi temporer
biasanya merupkan suatu stoma lengkung yang dibuat di kolon midtransvesus.
Kolostomi ujung yang permanen dibuat dari kolon desenden jika rectum harus
diangkat (kodner,1998). Tempat kolostomi ditentukan sebelum operasi. Harus
disedikan system kantong yang dipasang menutupi stoma pada akhir prosedur
operasi.
v Kolostomi
Ujung
Langkah penting
1. Kolon
kiri dibebaskan agar tempat stoma dapat ditarik ke dinding abdomen anterior.
2. Kolon
dibagi, dan ujung proksial ditarik ke dinding abdomen anterior melalui tempat
stoma.
3. Mesenterum
kolon kiri dapat difiksasi kedinding abdomen dengan jahitan jelujur dengn
menggunakan benang yang tidak dapat diserap sehingga terjadi penutupan defek
sampai ke level stoma.
4. Dibuat
kolostomi dengan menjahit seluruh ketebalan usus ke seluruh ketebalan kulit
dengan benang tang dapat diserap.
5. Setelah
pembuatan tersebut, dipasang kantong menutupi stoma.
v Kolon lengkung
Langkah
penting
1. Sebuah
lengkung kolon ditarik kearah omentum mayus dan dinding abdomen.
2. Dinding
abdomen dan perut ditutup secara erat di sekitar kolon dan di pasang sebuah
batang sebagai penunjang di bawah lengkung kolon.
3. Kolon
dibuka dalam arah yang memungkinkan pemisahan terlebar bagian yang fungsional
dan yang non fungsional.
4. Kolon
dibuka dan dibuat stoma dengan menjahitkan kolon ketebalan penuh ke kulit
ketebalan penuh dengan benang yang dapat diserap.
5. Dipaang
sebuah kantong menutupi stoma dan batang setelah pembentukan stoma selesai.
Protektomi ini dilakukan melaui kombinasi
pendekatan abdomen dan perineum. Apabila rectum harus diangkat, maka aliran
feses perlu dialihkan melalui kostomi permanen. Operasi ini mungkin melibatkan
dua tim bedah, satu mlelakukan bagian abdomen dan yang kedua melakukan bagian
perineum secara bersamaan. Mengkin
seperlukan dua set instrument lengkap.
Langkah penting
1. Kolon
kiri dibebaskan
2. Ditentukan
tempat untuk kolostomi dari kolon dipotong. Kolon ditutup rapat untuk menghindaqri
pencemaran feses selama defekasi rectum. Hal ini dapat dilakukan dengan pengikatan,
penjepitan atau stapler
3. Rectum
dibebaskan sampai daerah sfingter anus
4. Dibuat
insisi perenium dan rectum diangkat
5. Insisi
abdomen dan perenium ditutup
6. Dibuat
kostomi.
(Gruendemann, Barbara J. (2005)
E. ASUHAN KEPERAWATAN KOLOSTOMI
1.
PENGKAJIAN
a) Pengkajian Umum
Riwayat
kesehatan mencangkup suatu pengkajian tentang reaksi pasien terhadap diagnosis
dan kemampuanya untuk mengatasi situasi tersebut. Pertanyan yang berhubungan
mencangkup berikut :
Ø Bagaiman
pasienberrespon terhadap diagnosa?
Ø Mekanisme
koping apa yang pasien temukan paling membantu?
Ø Dukungan
psikologis atau emosional apa yang ia gunakan?
Ø Apakah ada
pasangan, keluarga, atau teman untuk membantu dalam membuat pengobatan?
Ø Bagian informasi mana yang paling penting yang
pasien butuhkan?
Ø Apakah
pasien mengalami suatu ketidaknyamanan?
b) Pre Operasi
Ø Penyuluhan dan persetujuan tindakan medik
Ø Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Ø Puasa, infus , pengosongan usus
Ø Premedikasi
Tujuan :
-
Sedasi
-
Amnesia
-
Analgesia
-
Induksi anestesi yang lancar
dan mudah
-
Mengurangi jumlah obat
-
Mengurangi reflex yang tidak
diinginkan
-
Mengurangi sekresi traktus
respiratorius
-
Mengurangi /menghilangkan
rasa mual dan muntah.
-
Obat-obat Premedikasi
-
Sedavia : Diazepam,midazolam
-
Narkotik : Pethidine ,
morphin
-
Atropin
Ø Persiapan Alat dan obat
c) Intra Operasi
Ø Induksi
Anestesia
Ø Intubasi
Ø Pengaturan
posisi
Ø Monitoring
tanda- tanda vital : suhu, tekanan darah, nadi, pernapasan.
d) Pasca Operasi
Ø Observasi/
temuan
Ø Hemoragi
Ø Perubahan
emosional/ perilaku yang berhubungan dengan: ansietas, depresi, perubahan citra
tubuh.
Ø Insisi:
sisidonor kulit; sisi pembedahan abdomen/ kolon, nyeri, pembengkakan, drainase.
2.
DIAGNOSA
a)
Pra Operatif
Ø Nyeri akut
berhubungan dengan agen pencedera
fisik
v Tujuan : Nyeri akut/ kronis hilang/ berkurang
v Kriteria hasil :
·
Klien tampak rileks dan
melaporkan nyeri hilang/ berkurang.
·
Mengungkapkan metode yang
memberikan penghilangan.
·
Mendemonstrasikan penggunaan
intervensi terapeutik (mis : keterampilan relaksasi modifikasi prilaku) untuk
menghilankan nyeri.
v Intervensi keperawatan :
·
Ajarkan teknik relaksasi dengan nafas dalam dan
alih posisi yang tepat.
-
Rasional :
Relaksasi otot untuk mengurangi ketegangan, menuruskan stress pada otot.
·
Alihkan perhatian pasien dan berikan dukungan
-
Rasional :
pengalihan perhatian dapat mengurangi
rasa nyeri yang dirasakan
Ø Ansietas
berhubungan dengan proses pembedahan
v Tujuan : Cemas/ ansietas hilang/
berkurang.
v Kriteria hasil :
·
Klien tampak rileks dan
melaporkan ansietas berkurang pada tingkat dapat diatasi.
·
Mengidentifikasi ketidak
efektifan prilaku koping dan konsekuensinya.
·
Mengkaji situasi terbaru
dengan akurat.
·
Mendemonstrasikan
keterampilan pemecahan masalah.
·
Mengembangkan remcana
untuk perubahan gaya hidup yang perlu.
v Intevensi keperawatan :
·
Kaji tingkat ansietas pasien.
-
Rasional :untuk mengetahui lingkunngan yang
asing yang dapat menakutkan dan menghilangkan rasa takut berhubungan dengan
proses operasi
·
Berikan informasi yang
akurat dan jawab dengan jujur.
-
Rasional : kembangkan rasa percaya/ hubungan,
turunkan rasa takut akan kehilangan control pada lingkungan yang asing
·
Cegah pemanjaan tubuh yang tidak diperlukan
selama pemindahan ataupun pada ruang operasi
-
Rasional : pasien akan memperhatikan masalah
kehilangan harga diri dan ketidakmampuan untuk melatih control
·
Berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana
pada pasien yang tenang. Tinajau lingkungan sesuai kebutuhan
-
Rasional : ketidakseimbangan dari proses
pemikiran akan membuat pasien menemuai kesulitan utuk memahami
petuntuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
·
Control stimuli eksternal
-
Rasional : suara gaduh dan keributan akan
meningkatkan ansietas
Ø Kurang pengetahuan berhubungan dengan kondisi
kurangnya informasi tentang prosedur pembedahan.
v Tujuan : Klien mengetahui, mengerti, tentang kondisi, prognosis dan tindakan
yang akan dilakukan.
v Kriteria hasil :
·
Melakukan prosedur yang diperlukan dan
menjelaskan alsan dari suatu tindakan.
·
Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan
dan ikut serta dalam regimen perawatan
v Intervensi Keperawatan :
·
Kaji tingkat pemahaman pasien
-
Rasional : berikan fasilitas perencanaan program
pengajaran pascaoperasi
·
Tinjau ulang patologi khusus dan anti sipasi
prosedur pembedahan
-
Rasional : sediakan pengetahuan berdasarkan hal
dimana pasien dapat membuat pilihan terapi berdasarkan infomasi dan setuju
untuk mengikuti prosedur, dan adanya kesempatan untuk menjelaskan kesalahan
konsep
·
Informasikan pasien atau orang terdekat
mengenai perjalanan, komunikasi dokter atau
orang terdekat
-
Rasional : informasi logistic mengenani jadwal
dan kamar operasi
b)
Intra Operatif
1.
Resiko intergritas jaringan berhubungan dengan faktor
mekanis
Ø Tujuan dan Kriteria Hasil : Menunjukan
integritas jaringan : kulit dan membran mukosa yang dibuktikan oleh tidak ada
tanda atau gejala infeksi.
Ø Intervensi :
·
Perawatan area insisi :
ü Pasang duk
steril
ü Berikan
disinfektan
ü Olesi dengan
iodin
Rasional : membersihkan, memantau dan meningkatkan
penyembuhan luka yang tertutup dengan jahitan, klip atau steples.
·
Lakukan perlindungan infeksi:
ü Perawat
menggunakan baju opersai steril
ü Memakai
peralatan yang steril
ü Kaji
temperatur klien tiap 4jam
ü Cuci tangan
sebelum dan sesudah tindakan
ü Ikuti
transmisi pencegahan dasar untuk udara,droplet
Rasional:
mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien beresiko.
·
Lakukan perawatan kulit:
ü terapi
tropikal
Rasional: mengoleskan zat tropikal atau manipulasi
alat untuk meningkatkan intergritas kulit dan meminimalkan kerusakan kulit.
2.
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kekurangan
cairan aktif
Ø Tujuan dan
kriteria hasil : Kekurangan volume
cairan akan teratasi.
Ø Intervensi:
·
Lakukan manajemen cairan:
ü memberikan medikasi intravena
ü Monitor status hidrasi (
kelembaban membrane, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
ü Monitor vital sign
ü Kolaborasi dokter jika cairan
berlebihan muncul memburuk atur kemungkinan transfusi
Rasional:
meningkatkan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi akibat kadar cairan
yang abnormal atau yang tidak di harapkan.
·
Lakukan manajemen syok, volume:
ü Melakukan balance cairan
ü Monitor vital sign
ü Pertahankan catatan intake dan
autput yang akurat
ü Persiapan untuk transfusi
Rasional:
meningkatkan keadekuatan perfusi jaringan untuk pasien yang mengalami ganggauan
volume intravaskuler yang benar.
·
Berikan terapi Intra vena:
ü Lakukan
pemasangan infus
Rasional: memberikan dan memantau cairan dan obat intravena.
3.
Penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan
frekuensi atau irama jantung
Ø Tujuan dan kriteria hasil: menunjukan curah jantung yang memuaskan, dibuktikan oleh
efektifitas pompa jantung, status sirkulasi, perfusi jaringa (organ abdomen,
jantung serebral, perifer,dan pulmonal, dan perfusi jaringan (perifer); dan
status tanda vital.
Ø Intervensi :
·
Pemantauaan tanda vital:
ü Monitor TD,
nadi, suhu dan RR
ü Catat adanya
fluktuasi tekanan darah
ü Aukultasi TD
pada keduab lengan dan bandingkan
ü Monitor
bunyi jantung
ü Monitor
frekuensi dan irama pernafasan
Rasional:
mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskuler, pernapasan, dan suhu tubuh
untuk mentukan komplikasi.
·
Perawatan jantung
ü Evaluasi
adanya nyeri dada
ü Lakukan
pemasangan EKG
ü Catat adanya
distritmia jantung
ü Monitor
adanya dispneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu
Rasional:
membatasi komplikasi akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen miokard pada pasien yang mengalami gejala kerusakan fungsi jantung.
·
Terapi intra vena
ü Lakukan
pemasangan infus
Rasional:
memberi dan memantau cairan dan obat intravena.
4.
Ketidakefektifan bersih jalan napas berhubungan dengan
Obstruksi jalan napas efek sekunder efek anastesi .
Ø Tujuan dan
kriteria hasil: menunjukan
pembersihan jalan napas yang efektif, yang di buktikan oleh pencegahan
aspirasi; status pernapasan: kepatenan jalan napas.
Ø Intervensi:
·
Kaji TTV :
ü Melakukan
pengukuran frekuensi pernapasan
ü Melakukan
pengukuran saturasi
Rasional:
untuk mengetahui keadaan umum pasien
·
Lakukan pengaturan posisi:
ü Berikan
posisi supine ( terlentang ) pada klien
Rasional:
mengubah posisi pasien atau bagian tubuh pasien secara sengaja untuk
menfasilitasi kesejahteraan fisiologis dan psikologis.
·
Berikan pemasangan oksigenasi:
ü Beriakan dan
pasan oksigenasi ±2 liter
Rasional:
supaya pasien tidak mengalami sesak napas
c)
Post Operatif
1)
Resiko cidera jatuh berhubungan dengan kondisi
pascabedah, penurunan kesadaran efek general anastesi.
Ø Tujuan dan
kriteria hasil : Resiko jatuh akan
menurun atau terbatas yang dibuktikan oleh keseimbangan, gerakan yang terkoordinasi,
perilaku pencegahan jatuh, kejadian jatuh, dan pengetahuan : pencegahan jatuh.
Ø Intervensi:
·
Lakukan manajemen lingkungan:
ü Berikan
keamanan pada pasien
ü Berikan
alat- alat pengikat yang sesuai dan dengan benar.
Rasional: memantau dan memanipulasi lingkungan fisik
untuk memfasilitasi keamanan.
·
Lakukan pencegahan jatuh
ü Pasang
restrain pada tempat tidur pasien
ü Posisikan
pasien seaman mungkin
Rasional:
menerapkan tindakan kewaspadaan khusus bersama pasien yang memiliki resiko
mengalami cidera akibat jatuh.
2)
Resiko aspirasi berhubungan dengan adanya selang trakeostomi atau endotrakea.
Ø Tujuan dan
kriteria hasil : Tidak akan
mengalami aspirasi yang yang di buktikan oleh pencegahan aspirasi, ventilasi
tidak mengalami gangguan.
Ø Intervensi:
·
Kaji TTV:
ü Melakukan
pengukuran frekuensi pernafasan
ü Melakukan
pengukuran saturasi
Rasional:
untuk mengetahui keadaan umum pasien
·
Lakukan manajemen jalan nafas:
ü Monitor
frekuensi, ritme, kedalaman pernafasan
ü Catat
pergerakan dada, kesimetrisan, penggunaan otot tambahan dan retraksi otot
intracostal
ü Monitor pola
nafas: bradipne, takipnea, hiperventilasi
ü Palpasi
ekspansi paru
Rasional:
memfasilitasi kepatenan jalan napas
·
Lakukan kewaspadaan aspirasi:
ü Monitor
frekuensi, ritme, kedalaman pernafasan
ü Catat
pergerakan dada, kesimetrisan, penggunaan otot tambahan dan retraksi otot
intracostal
ü Auskultasi
suara pernafasan
Rasional:
mencegah dan menimalkan faktor resiko pada pasien yang beresiko terhadap
aspirasi.
·
Lakukan pemantauan pernapasan:
ü Monitor
frekuensi, ritme, kedalaman pernafasan
ü Catat
pergerakan dada, kesimetrisan, penggunaan otot tambahan dan retraksi otot
intracostal
ü Monitor
pernafasan hidung
ü Palpasi
ekspansi paru
Rasional: mengumpulkan dan menganalisis data pasien
untuk memastikan kepatenan jalan napas dan pertukaran gas yang adekuat.
3)
Hipotermi berhubungan dengan terpajan lingkungan yang
dingin.
Ø Tujuan dan
kriteria hasil : Suhu tubuh dalam rentang normal, dan nadi, RR dalam rentang
normal.
Ø Intervensi:
·
Pantau tanda – tanda vital:
ü Melakukan
pengukuran frekuensi pernafasan
ü Lakukan
pengukuran saturasi
ü Catat jika
adanya fluktuasi tekanan darah
ü Monitor
kualitas dari nadi
Rasional : mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskuler,
pernapasan dan suhu tubuh untuk menentukan serta mencegah komplikasi.
·
Lakukan regulasi suhu: intra bedah:
ü Monitor suhu
sesering mungkin
ü Monitor
tekanan darah, nadi dan RR
ü Berikan
selimut hangatdan letakkan peralatan udara hangat dibawah dan diatas pasien
Rasional:
menpertahankan atau mencapai suhu intrabedah yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bunner and sunddart.
2002. Keperawatan medikal bedah,
edisi 8 vol. 2. Jakarta: EGC.
Dongoes, Marilyn E. 1999. Rencana
Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan
pasien, edisi 3. Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arif. (2009). Asuhan Keperawatan Perioperatif: Konsep, Proses, dan Aplikasi.Jakarta:
Salemba Medika.
Sjamsuhidajat,
R dan Wim de jong. 1998. Buku ajar Ilmu
Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Wilkison, judith M dan
Nancy R. Ahern. 2012. Buku saku diagnosa
keperawatan: diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta:
EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar