Selasa, 17 Juni 2014

keperawatan bedah


                  KEPERAWATAN BEDAH CENTRAL
ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN KOLOSTOMI EXCAUSA CARSINOMA COLON
DI RUANG BEDAH













AKADEMI KEPERAWATAN WIDYA HUSADA
SEMARANG
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Keperawatan Bedah Central (KBC) yang berjudul : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Kolostomi Di Ruang Bedah. Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan dan hambatan, akan tetapi berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Dalam kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, memberi pengarahan, bimbingan, semangat serta doa untuk keberhasilan penulis, antara lain :
1.      Ibu Dyah Restuning P, S.Kep, selaku dosen pengampu mata kuliah Keperawatan Bedah Cenral (KBC), yang telah membimbing dan memberi masukan kepada penulis.
2.      Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca.


                                                                    Semarang,    Desember 2013


      Penulis





Daftar isi





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kolostomi adalah suatu operasi untuk membentuk suatu hubungan buatan antara colon dengan permukaan kulit pada dinding perut. Hubungan ini dapat bersifat sementara atau menetap selamanya. (llmu Bedah, Thiodorer Schrock, MD, 1983).
Colostomi dapat berupa secostomy, colostomy transversum, colostomy sigmoid, sedangkan colon accendens dan descendens sangat jarang dipergunakan untuk membuat colostomy karena kedua bagian tersebut terfixir retroperitoneal.
Colostomy pada bayi dan anak hampir selalu merupakan tindakan gawat darurat, sedang pada orang dewasa merupakan keadaan yang pathologis. Colostomy pada bayi dan anak biasanya bersifat sementara.
·         Indikasi kolostomi
·         Indikasi kolostomi yang permanen pada penyakit usus yang ganas seperti carsinoma pada usus, Kondisi infeksi tertentu pada colon.
·         Komplikasi kolostomi
Prolaps merupakan penonjolan mukosa colon 6 cm atau lebih dari permukaan kulit. Prolaps dapat dibagi 3 tingkatan:Penonjolan seluruh dinding colon termasuk peritonium kadang-kadang sampai loop ilium. Adanya strangulasi dan nekrosis pada usus yang mengalami penonjolan prolaps dapat terjadi oleh adanya faktor-faktor Peristaltik usus meningkat, fixasi usus tidak sempurna, mesocolon yang panjang, tekanan intra abdominal tinggi, dinding abdomen tipis dan tonusnya yang lemah serta kemungkinan omentum yang pendek dan tipis.


B.     Tujuan
-          Tujuan Umum
Memahami dan mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan kolostomi di kamar bedah.
-          Tujuan Khusus
1.      Menjelaskan pengertian kolostomi
2.      Menjelaskan indikasi kolostomi
3.      Menjelaskan tentang pathways kolostomi
4.      Menjelaskan prosedur kolostomi
5.      Menjelaskan asuhan keperawatan pra intra dan post operasi kolostomi








BAB II
KONSEP TEORI

A.   Pengertian
Kolostomi merupakan kolokutaneostomi yang disebut juga anus preternaturalis yang dibuat untuk sementara atau menetap. Kolostomi sementara dibuat pada pasien dengan kondisi gawat abdomen dengan peritonitis yang telah dilakukan reseksi sebagian kolonnya. Kolostomi tetap dibuat dengan tujuan bedah kuratif atau ablative pada karsinoma kolon dengan reseksi rektoanal abdominoperineal. (Arif Muttaqin & Kumala Sari. 2009).

Kolostomi merupakan prosedur yang harus dilakukan pada klien dengan kanker kolon atau rectum yang telah dbuatkan cara dan lokasi evakuasi kotoran melalui operasi saluran cerna. (Elly Nurachmah & Sudarsono. 2000).

Kolostomi merupakan tindakan membuat lubang diantara kolon dan dinding abdomen dimana isi fekal melewatinya. Kolostomi dapat ditempatkan dikolon asenden, transversal, desenden atau sigmoid. (Monika Ester. 2001).

Kolostomi merupakan pembukaan suatu bagian kolon kepermukaan abdomen untuk mengalihkan feses, baik secara sementara atau permanen. (Lynda Juall Carpenito. 1999).

B.     Indikasi
Indikasi untuk kolostomi termasuk Diverkulitis, Karsinoma kolon sigmoid, Anomali congenital, Perlindungan anastomosis jahitan distal (sementara). Single barreled atau end colostomy termasuk satu pembukaan fungsi (stoma) pada permukaan abdomen dan permanen jika bagian distal usus dari stoma diangkat. Double barreled dan loop colostomy termasuk dua pembukaan pada permukaan abdomen, berakhir pada loop proksimal dan distal. Loop kolostomi dapat sementara, dengan penutupan kemudian; identifikasi loop proksimal dan distal diperlukan untuk manajemen yang tepat (Smith, 1986 dan Carpenito,1999)
Indikasi kolostomi adalah dekompres usus pada obtruksi, stoma sementara untuk bedah reseksi usus pada radang, atau perforasi, dan sebagai anus stelah reseksi usus distal untuk melindungi anastomisis distal (Syamsuhidayat, 1998)



C.    Pathways
Konsumsi makanan rendah serat, tinggi lemak dan protein
Merokok
Obesitas
Faktor Genetik
Kolitis ulseratif, penyakit chorn
Invasi jaringan dan efek kompresi oleh tumor
Perusakan metaplasia pada dinding kolon
Kanker kolon
Kompresi saraf lokal
Kerusakan jaringan
Intervensi radiasi dan keemotrapi
Intervensi bedah kolostomi
Respon Psikologik
Distensi abdomen
Intoleran aktivitas
Nyeri abdomen
Kolostomi
Perdarahan intestinal, feses campur darah
Kecemasan
kurangnya informasi
Intra Operasi
Pra Operasi
Post Operasi

 
Faktor Psikologi
Pra Operasi
Sebelum dilakukan operasi
Jepitan saraf spinal
Nyeri
Kurang informasi terhadap tindakan operasi
Peningkatan reaksi emosional
Ansietas
Kurang pengetahuan

 
Intra Operasi
Luka terbuka
Luka pembedahan
Resiko infeksi
Kerusakan integritas kulit
Kuman  masuk
Perdarahan
Netral caunter inadekuat
Insisi diperut
Resiko combustio
Anastesi umum
Elektro Caunter
Kekurangan volume cairan tubuh
Syok hipovolemik
Penurunan kerjaSaraf Spinal
Gerak Motorik menurun
Gangguan mobilitas fisik
Penurunan Kerja Saraf Pusat (Medula Oblongata)

Penurunan kerja saraf pernapasan

      Penurunan sistem pencernaan

Penurunan bising usus

Konstipasi

Ketidakefektifan  bersih jalan napas

Reflek batuk menurun
Kerja jantung menurun
Kekuatan pompa jantung menurun
Irama menurun
Nadi menurun
Tekanan darah menurun
Penurunan curah jantung

 
Sistem kerja saraf pusat (Medula Oblongata) lemah
Post Operasi
Hipotermia
Pemajanan lingkungan
Efek general anastesi
Resiko cidera jatuh
Kesadaran menurun
Depresi reflek
Reflek batuk dan menelan menurun
Resiko aspirasi

 

D.    Prosedur Tindakan Bedah
Kolostomi dibuat untuk mengobati penyakit keganasan atau jinak pada kolon atau rectum. Kolostomi dapat bersifat sementara untuk mengalihkan isi usus atau untuk mengempiskan kolon. Kolostomi temporer biasanya merupkan suatu stoma lengkung yang dibuat di kolon midtransvesus. Kolostomi ujung yang permanen dibuat dari kolon desenden jika rectum harus diangkat (kodner,1998). Tempat kolostomi ditentukan sebelum operasi. Harus disedikan system kantong yang dipasang menutupi stoma pada akhir prosedur operasi.
v  Kolostomi Ujung
Langkah penting
1.      Kolon kiri dibebaskan agar tempat stoma dapat ditarik ke dinding abdomen anterior.
2.      Kolon dibagi, dan ujung proksial ditarik ke dinding abdomen anterior melalui tempat stoma.
3.      Mesenterum kolon kiri dapat difiksasi kedinding abdomen dengan jahitan jelujur dengn menggunakan benang yang tidak dapat diserap sehingga terjadi penutupan defek sampai ke level stoma.
4.      Dibuat kolostomi dengan menjahit seluruh ketebalan usus ke seluruh ketebalan kulit dengan benang tang dapat diserap.
5.      Setelah pembuatan tersebut, dipasang kantong menutupi stoma.

v  Kolon lengkung
Langkah penting
1.      Sebuah lengkung kolon ditarik kearah omentum mayus dan dinding abdomen.
2.      Dinding abdomen dan perut ditutup secara erat di sekitar kolon dan di pasang sebuah batang sebagai penunjang di bawah lengkung kolon.
3.      Kolon dibuka dalam arah yang memungkinkan pemisahan terlebar bagian yang fungsional dan yang non fungsional.
4.      Kolon dibuka dan dibuat stoma dengan menjahitkan kolon ketebalan penuh ke kulit ketebalan penuh dengan benang yang dapat diserap.
5.      Dipaang sebuah kantong menutupi stoma dan batang setelah pembentukan stoma selesai.
Protektomi ini dilakukan melaui kombinasi pendekatan abdomen dan perineum. Apabila rectum harus diangkat, maka aliran feses perlu dialihkan melalui kostomi permanen. Operasi ini mungkin melibatkan dua tim bedah, satu mlelakukan bagian abdomen dan yang kedua melakukan bagian perineum secara bersamaan. Mengkin  seperlukan dua set instrument lengkap.
Langkah penting
1.      Kolon kiri dibebaskan
2.      Ditentukan tempat untuk kolostomi dari kolon dipotong. Kolon ditutup rapat untuk menghindaqri pencemaran feses selama defekasi rectum. Hal ini dapat dilakukan dengan pengikatan, penjepitan atau stapler
3.      Rectum dibebaskan sampai daerah sfingter anus
4.      Dibuat insisi perenium dan rectum diangkat
5.      Insisi abdomen dan perenium ditutup
6.      Dibuat kostomi.
(Gruendemann, Barbara J. (2005)




E.     ASUHAN KEPERAWATAN KOLOSTOMI
1.      PENGKAJIAN
a)      Pengkajian Umum
Riwayat kesehatan mencangkup suatu pengkajian tentang reaksi pasien terhadap diagnosis dan kemampuanya untuk mengatasi situasi tersebut. Pertanyan yang berhubungan mencangkup berikut :
Ø  Bagaiman pasienberrespon terhadap diagnosa?
Ø  Mekanisme koping apa yang pasien temukan paling membantu?
Ø  Dukungan psikologis atau emosional apa yang ia gunakan?
Ø  Apakah ada pasangan, keluarga, atau teman untuk membantu dalam membuat  pengobatan?
Ø  Bagian  informasi mana yang paling penting yang pasien butuhkan?
Ø  Apakah pasien mengalami  suatu ketidaknyamanan?
b)     Pre Operasi
Ø  Penyuluhan dan persetujuan tindakan medik
Ø  Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Ø  Puasa, infus , pengosongan usus
Ø  Premedikasi
Tujuan :
-          Sedasi
-          Amnesia
-          Analgesia
-          Induksi anestesi yang lancar dan mudah
-          Mengurangi jumlah obat
-          Mengurangi reflex yang tidak diinginkan
-          Mengurangi sekresi traktus respiratorius
-          Mengurangi /menghilangkan rasa mual dan muntah.
-          Obat-obat Premedikasi
-          Sedavia : Diazepam,midazolam
-          Narkotik : Pethidine , morphin
-          Atropin
Ø  Persiapan Alat dan obat
c)      Intra Operasi
Ø  Induksi Anestesia
Ø  Intubasi
Ø  Pengaturan posisi
Ø  Monitoring tanda- tanda vital : suhu, tekanan darah, nadi, pernapasan.
d)     Pasca Operasi
Ø  Observasi/ temuan
Ø  Hemoragi
Ø  Perubahan emosional/ perilaku yang berhubungan dengan: ansietas, depresi, perubahan citra tubuh.
Ø  Insisi: sisidonor kulit; sisi pembedahan abdomen/ kolon, nyeri, pembengkakan, drainase.

2.      DIAGNOSA
a)      Pra Operatif
Ø  Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik
v  Tujuan  :  Nyeri akut/ kronis hilang/ berkurang
v  Kriteria hasil   :
·         Klien tampak rileks dan melaporkan nyeri hilang/ berkurang.
·         Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan.
·         Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik (mis : keterampilan relaksasi modifikasi prilaku) untuk menghilankan nyeri.
v  Intervensi keperawatan  :
·         Ajarkan teknik relaksasi dengan nafas dalam dan alih posisi yang tepat.
-          Rasional    : Relaksasi otot untuk mengurangi ketegangan, menuruskan stress pada otot.
·         Alihkan perhatian pasien dan berikan dukungan
-          Rasional    : pengalihan perhatian  dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan

Ø  Ansietas berhubungan dengan proses pembedahan
v  Tujuan  :  Cemas/ ansietas hilang/  berkurang.
v  Kriteria hasil  :
·         Klien tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang pada tingkat dapat diatasi.
·         Mengidentifikasi ketidak efektifan prilaku koping dan konsekuensinya.
·         Mengkaji situasi terbaru dengan akurat.
·         Mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalah.
·         Mengembangkan remcana untuk perubahan gaya hidup yang perlu.
v  Intevensi keperawatan :
·         Kaji tingkat ansietas pasien.
-          Rasional :untuk mengetahui lingkunngan yang asing yang dapat menakutkan dan menghilangkan rasa takut berhubungan dengan proses operasi
·         Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur.
-          Rasional : kembangkan rasa percaya/ hubungan, turunkan rasa takut akan kehilangan control pada lingkungan yang asing
·         Cegah pemanjaan tubuh yang tidak diperlukan selama pemindahan ataupun pada ruang operasi
-          Rasional : pasien akan memperhatikan masalah kehilangan harga diri dan ketidakmampuan untuk melatih control
·         Berikan petunjuk atau penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang. Tinajau lingkungan sesuai kebutuhan
-          Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemuai kesulitan utuk memahami petuntuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit
·         Control stimuli eksternal
-          Rasional : suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas

Ø  Kurang pengetahuan berhubungan dengan kondisi kurangnya informasi tentang prosedur pembedahan.
v  Tujuan  :  Klien mengetahui, mengerti, tentang kondisi, prognosis dan tindakan yang akan dilakukan.
v  Kriteria hasil  :
·         Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alsan dari suatu tindakan.
·         Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan
v  Intervensi Keperawatan :
·         Kaji tingkat pemahaman pasien
-          Rasional : berikan fasilitas perencanaan program pengajaran pascaoperasi
·         Tinjau ulang patologi khusus dan anti sipasi prosedur pembedahan
-          Rasional : sediakan pengetahuan berdasarkan hal dimana pasien dapat membuat pilihan terapi berdasarkan infomasi dan setuju untuk mengikuti prosedur, dan adanya kesempatan untuk menjelaskan kesalahan konsep
·         Informasikan pasien atau orang terdekat mengenai perjalanan, komunikasi dokter atau  orang terdekat
-          Rasional : informasi logistic mengenani jadwal dan kamar operasi
b)     Intra Operatif
1.      Resiko intergritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanis
Ø  Tujuan dan Kriteria Hasil : Menunjukan integritas jaringan : kulit dan membran mukosa yang dibuktikan oleh tidak ada tanda atau gejala infeksi.
Ø  Intervensi :
·         Perawatan area insisi :
ü  Pasang duk steril
ü  Berikan disinfektan
ü  Olesi dengan iodin
Rasional : membersihkan, memantau dan meningkatkan penyembuhan luka yang tertutup dengan jahitan, klip atau steples.
·         Lakukan perlindungan infeksi:
ü  Perawat menggunakan baju opersai steril
ü  Memakai peralatan yang steril
ü  Kaji temperatur klien  tiap 4jam
ü  Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
ü  Ikuti transmisi pencegahan dasar untuk udara,droplet
Rasional: mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien beresiko.
·         Lakukan perawatan kulit:
ü  terapi tropikal
Rasional: mengoleskan zat tropikal atau manipulasi alat untuk meningkatkan intergritas kulit dan meminimalkan kerusakan kulit.

2.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kekurangan cairan aktif
Ø  Tujuan dan kriteria hasil : Kekurangan volume cairan akan teratasi.
Ø  Intervensi:
·         Lakukan manajemen cairan:
ü  memberikan medikasi intravena
ü  Monitor status hidrasi ( kelembaban membrane, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
ü  Monitor vital sign
ü  Kolaborasi dokter jika cairan berlebihan muncul memburuk atur kemungkinan transfusi
Rasional: meningkatkan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi akibat kadar cairan yang abnormal atau yang tidak di harapkan.
·         Lakukan manajemen syok, volume:
ü  Melakukan balance cairan
ü  Monitor vital sign
ü  Pertahankan catatan intake dan autput yang akurat
ü  Persiapan untuk transfusi
Rasional: meningkatkan keadekuatan perfusi jaringan untuk pasien yang mengalami ganggauan volume intravaskuler yang benar.
·         Berikan terapi Intra vena:
ü  Lakukan pemasangan infus
Rasional: memberikan dan memantau cairan dan obat intravena.

3.      Penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan frekuensi atau irama jantung
Ø  Tujuan  dan kriteria hasil: menunjukan curah jantung yang memuaskan, dibuktikan oleh efektifitas pompa jantung, status sirkulasi, perfusi jaringa (organ abdomen, jantung serebral, perifer,dan pulmonal, dan perfusi jaringan (perifer); dan status tanda vital.
Ø  Intervensi :
·         Pemantauaan tanda vital:
ü  Monitor TD, nadi, suhu dan RR
ü  Catat adanya fluktuasi tekanan darah
ü  Aukultasi TD pada keduab lengan dan bandingkan
ü  Monitor bunyi jantung
ü  Monitor frekuensi dan irama pernafasan
Rasional: mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskuler, pernapasan, dan suhu tubuh untuk mentukan komplikasi.
·         Perawatan jantung
ü  Evaluasi adanya nyeri dada
ü  Lakukan pemasangan EKG
ü  Catat adanya distritmia jantung
ü  Monitor adanya dispneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu
Rasional: membatasi komplikasi akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard pada pasien yang mengalami gejala kerusakan fungsi jantung.
·         Terapi intra vena
ü  Lakukan pemasangan infus
Rasional: memberi dan memantau cairan dan obat intravena.

4.      Ketidakefektifan bersih jalan napas berhubungan dengan Obstruksi jalan napas efek sekunder efek anastesi .
Ø  Tujuan dan kriteria hasil: menunjukan pembersihan jalan napas yang efektif, yang di buktikan oleh pencegahan aspirasi; status pernapasan: kepatenan jalan napas.
Ø  Intervensi:
·         Kaji TTV :
ü  Melakukan pengukuran frekuensi pernapasan
ü  Melakukan pengukuran saturasi
Rasional: untuk mengetahui keadaan umum pasien
·         Lakukan pengaturan posisi:
ü  Berikan posisi supine ( terlentang ) pada klien
Rasional: mengubah posisi pasien atau bagian tubuh pasien secara sengaja untuk menfasilitasi kesejahteraan fisiologis dan psikologis.
·         Berikan pemasangan oksigenasi:
ü  Beriakan dan pasan oksigenasi ±2 liter
Rasional: supaya pasien tidak mengalami sesak napas

c)      Post Operatif
1)      Resiko cidera jatuh berhubungan dengan kondisi pascabedah, penurunan kesadaran efek general anastesi.
Ø  Tujuan dan kriteria hasil : Resiko jatuh akan menurun atau terbatas yang dibuktikan oleh keseimbangan, gerakan yang terkoordinasi, perilaku pencegahan jatuh, kejadian jatuh, dan pengetahuan : pencegahan jatuh.
Ø  Intervensi:
·         Lakukan manajemen lingkungan:
ü  Berikan keamanan pada pasien
ü  Berikan alat- alat pengikat yang sesuai dan dengan benar.
Rasional: memantau dan memanipulasi lingkungan fisik untuk memfasilitasi keamanan.
·         Lakukan pencegahan jatuh
ü  Pasang restrain pada tempat tidur pasien
ü  Posisikan pasien seaman mungkin
Rasional: menerapkan tindakan kewaspadaan khusus bersama pasien yang memiliki resiko mengalami cidera akibat jatuh.

2)      Resiko aspirasi berhubungan dengan  adanya selang trakeostomi atau endotrakea.
Ø  Tujuan dan kriteria hasil : Tidak akan mengalami aspirasi yang yang di buktikan oleh pencegahan aspirasi, ventilasi tidak mengalami gangguan.
Ø  Intervensi:
·         Kaji TTV:
ü  Melakukan pengukuran frekuensi pernafasan
ü  Melakukan pengukuran saturasi
Rasional: untuk mengetahui keadaan umum pasien
·         Lakukan manajemen jalan nafas:
ü  Monitor frekuensi, ritme, kedalaman pernafasan
ü  Catat pergerakan dada, kesimetrisan, penggunaan otot tambahan dan retraksi otot intracostal
ü  Monitor pola nafas: bradipne, takipnea, hiperventilasi
ü  Palpasi ekspansi paru
Rasional: memfasilitasi kepatenan jalan napas
·         Lakukan kewaspadaan aspirasi:
ü  Monitor frekuensi, ritme, kedalaman pernafasan
ü  Catat pergerakan dada, kesimetrisan, penggunaan otot tambahan dan retraksi otot intracostal
ü  Auskultasi suara pernafasan
Rasional: mencegah dan menimalkan faktor resiko pada pasien yang beresiko terhadap aspirasi.
·         Lakukan pemantauan pernapasan:
ü  Monitor frekuensi, ritme, kedalaman pernafasan
ü  Catat pergerakan dada, kesimetrisan, penggunaan otot tambahan dan retraksi otot intracostal
ü  Monitor pernafasan hidung
ü  Palpasi ekspansi paru
Rasional: mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk memastikan kepatenan jalan napas dan pertukaran gas yang adekuat.



3)      Hipotermi berhubungan dengan terpajan lingkungan yang dingin.
Ø  Tujuan dan kriteria hasil : Suhu tubuh dalam rentang normal, dan nadi, RR dalam rentang normal.
Ø  Intervensi:
·         Pantau tanda – tanda vital:
ü  Melakukan pengukuran frekuensi pernafasan
ü  Lakukan pengukuran saturasi
ü  Catat jika adanya fluktuasi tekanan darah
ü  Monitor kualitas dari nadi
Rasional : mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskuler, pernapasan dan suhu tubuh untuk menentukan serta mencegah komplikasi.
·         Lakukan regulasi suhu: intra bedah:
ü  Monitor suhu sesering mungkin
ü  Monitor tekanan darah, nadi dan RR
ü  Berikan selimut hangatdan letakkan peralatan udara hangat dibawah dan diatas pasien
Rasional: menpertahankan atau mencapai suhu intrabedah yang diharapkan.





DAFTAR PUSTAKA

Bunner and sunddart. 2002. Keperawatan medikal bedah, edisi 8 vol. 2. Jakarta: EGC.
Dongoes, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, edisi 3. Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arif. (2009). Asuhan Keperawatan Perioperatif: Konsep, Proses, dan Aplikasi.Jakarta: Salemba Medika.
Sjamsuhidajat, R dan Wim de jong. 1998. Buku ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Wilkison, judith M dan Nancy R. Ahern. 2012. Buku saku diagnosa keperawatan: diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar